Upload and Share First!

Menulis itu butuh referensi, referensi butuh dicari dan dibaca, mencari referensi mungkin mudah dengan semakin mudahnya kita mengakses internet dan situs-situs yang menyediakan berbagai referensi yang dibutuhkan. Yang paling sulit itu adalah membaca referensinya, menganalisanya dan menjadikannya tulisan kembali yang mudah dicerna semua orang. I mean, semua orang.

Mau nulis tapi butuh referensi, soalnya yang ditulis agak berat. Soal budaya punitive di masyarakat yang makin menjadi di era kemudahan komunikasi saat ini (media social, red).

Seperti beberapa hari belakangan ini, hati resah sangat melihat fenomena yang membuat hati gondok. Fenomena mengambil foto orang secara sembunyi-sembunyi dan menyebarkannya secara sadar di media social dengan tujuan untuk menghukum orang tersebut.

Contoh yang sudah jadi viral saat ini adalah foto seorang ibu yang duduk selonjoran mengangkat kaki di kursi krl commuterline. Berhubung memang saya tergabung di dalam komunitas Krlmania yang merupakan wadah dari pengguna krl commuterline Jabodetabekserp ini, saya bisa melihat berapa banyak foto tersebut diunggah oleh orang lain – yang kemudian di delete oleh admin group. Dan berapa banyak pula hujatan yang disampaikan orang-orang kepada ibu tersebut.

Padahal di foto tersebut tidak ada kronologis apapun yang menjelaskan duduk perkaranya seperti apa. Apakah memang ibu tersebut tidak memberikan kursi tersebut kepada orang-orang lain yang sedang berdiri? Atau ternyata itu foto ketika memang penumpang banyak yang sudah bersiap turun di stasiun tujuannya dan ibu itu sekedar meluruskan kakinya yang pegal karna berdesakkan di kereta? Entahlah, jika tidak ada klarifikasi dari orang sekitar dan si ibu tentunya, cerita sebenarnya tidak bakal terungkap.

Hal yang saya sesalkan, dari foto tersebut, kenapa tidak ada yang berani menegur secara langsung ibu tersebut?

Hal lain, yang cukup membuat akal sehat bergejolak adalah ketika ada foto seorang bapak yang menggendong anak di dalam krl commuterline, kemudian sang pengunggah foto tersebut menyatakan bahwa tidak ada orang yang mau beri bapak dengan anak tersebut tempat duduk di dalam krl. Padahal dia sendiri belum menawarkan mencarikan tempat duduk dan meminta orang yang duduk untuk memberikan tempat duduknya kepada bapak tersebut. Ketika saya tanyakan hal tersebut, dia menjawab itu adalah tugas PKD. Asdfgghjk!

Miris banget. Karena banyak orang sudah langsung menyimpulkan sesuatu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Andai saja si penggunggah foto tadi mencarikan tempat duduk untuk si Bapak mungkin foto candid si bapak tidak perlu beredar luas, hatinya tidak perlu gondok karna melihat si bapak dan si anak yang digendong tidak mendapatkan duduk. Dan tidak perlu beragumen dengan saya di whatsapp group sampai mau baku hantam.

Budaya upload and share first, tidak perlu tahu kronologisnya terlebih dahulu, buat penghakiman terlebih dahulu, hujat terlebih dahulu, viralkan, makin berkembang, makin massive, makin susah dihentikan. Karena banyak orang yang melakukan, jadi kesannya perbuatan tersebut benar, tepat. Masyarakat seperti sudah kehilangan sikap ramah ala budaya timur yang banyak digembar-gemborkan, sikap berprasangka baik yang diutamakan oleh sebagaian besar orang yang (katanya) beragama. Semua orang yang dianggap salah tidak punya kesempatan membela diri, menyampaikan kondisi yang sesungguhnya.

Sungguhlah, saya bingung mengatasi cara berpikir yang seperti ini, semakin saya berusaha untuk memberitahu bahwa caranya salah, semakin saya ingin dibaku hantam. Ngeri kali dunia ini!

Mungkin tepat kata-kata dari seorang selebtwit di media sosialnya hari ini, Dengan perkembangan teknologi, apa-apa makin mudah, kecuali cara berpikir kita – HW

Tulisan ini pun tidak jadi ada referensinya yak, bingung mau mulai dari mana kalau terpaku dari referensi, jadi tulisan ini hanya datang dari opini pribadi. hehehe

Advertisements