Tags

, , , ,


Sebenarnya isu ini masih menjadi isu yang kontroversial di negeri ini. Miris sih, ketika di negara-negara luar kebijakan mengenai Tembakau (dalam hal ini rokok) sudah sangat ketat, di Indonesia masih sangat lemah. Bahkan harga satu batang rokoknya sama dengan harga sebatang permen cupacup. Murah bingitz!

Sebenarnya, saya juga sudah malas sih membahas hal ini. karena pasti para perokok langsung bereaksi keras. Kenapa gak Junk Food dilarang juga? itu kan mematikan juga? atau Kenapa polusi asap kendaraan dibiarkan? Itu juga mematikan kan?

Saya sih, jujur hanya bisa jawab yang junk food. Logika sederhana saya adalah, Junk food itu dimakan oleh orang tersebut dengan sepenuh kesadarannya akan bahayanya, dan tidak membahayakan orang yang sedang duduk disebelahnya, belakangnya, ataupun depannya jika orangnya tersebut tidak ikut makan junk food tersebut. Beda kan dengan rokok, rokok itu asapnya bisa dihirup orang lain (yang mungkin tidak suka asap rokok, atau alergi asap rokok) yang ada di sebelah, depan ataupun depan perokok. Tanpa mereka minta, tanpa mereka ditanya mau hirup asap atau tidak. Jelas ada bedanya kan?

Saya pernah dapet dokumen mengenai Pengendalian Tembakau ini di Indonesia (yang sampai sekarang setau saya undang-undangnya belum ditanda-tangani sama SBY karena sebab-sebab keuntungan perekonomian katanya). Dokumen ini memuar mengapa perlu adanya pengendalian tembakau dan intervensi pemerintah mengenai tembakau ini. Sumbernya dari mailing list alumni kampus saya dulu, salah satu dari anggota milis adalah penggiat tobacco control untuk Indonesia.

Dokumennya bisa di download dari link berikut ini: Tobacco_Initiative_Bab_5-Kebijakan_Pengendalian_Tembakau.doc.doc

Saya tidak pernah beranggapan rokok harus dihentikan produksinya, perusahaanya di tutup atau orang tidak boleh merokok. Sok atuh perokok merokok, tetapi jangan ajak-ajak orang lain untuk terkena penyakit akibat rokok dan mati cepat karenanya. Merokoklah dengan bijak.

Saat ini, sudah ada kebijakan untuk mengurangi jumlah perokok di Indonesia, yaitu dengan menyertakan gambar-gambar menyeramkan akibat merokok dan slogan merokok dapat membunuhmu. Well, sudah ada kemajuan sih, tapi gambarnya menurut saya masih sangat minim dan gambarnya kurang seram.

Cara ini menjadi kurang efektif. karena perokok memilih untuk membeli rokok dengan gambar yang tidak terlalu seram atau rokok yang belum ada peringatan bergambarnya. Ini salah satu contoh yang diceritakan suami saya (yang bangganya sudah berhenti merokok sekitar 1 tahun 3 bulan yang lalu) ketika temannya mau beli rokok di sekitaran kantor.

Menurut teman-teman, cara apa sih yang paling efektif untuk meminimalisir konsumsi rokok? Atau paling tidak menyadarkan perokok kalau mereka tidak bisa merokok disembarang tempat (khususnya di area publik).

Duh saya kena polusi berbahaya nih pas nulis artikel ini, polusi wanginya ikan asin di goreng sore-sore. Bahaya bikin lapar.😀