Tags

, , , , , , , , ,


Beberapa hari lalu, saya dapat panggilan kerja di daerah bilangan Sudirman, Jakarta di sebuah perusahaan Trading dan Investasi. Setelah interview yang cukup singkat, saya mendapat kesan positif bahwa saya akan diterima. Senang tapi janggal. Karena wawancaranya sendiri tidak memakan waktu lama, dan lebih banyak pewawancaranya lah yang berbicara. Setelah cari-cari informasi mengenai perusahaan tersebut dan sejenisnya, ternyata perusahaan tersebut not recommended. Link infonya bisa dilihat di forum Kaskus ini.

Saya bukan mau bahas perusahaannya, karena sudah ada yang bahas jauh lebih detail. Saya pada waktu interview kemarin sempat kenalan dengan salah satu pelamar juga. Sebut saja namanya Bunga. Ternyata dia juga hampir sama pengalaman bekerjanya, kebanyakan dari organisasi. Setelah perkenalan, kami bertukar nomor handphone dan sampai sekarang masih suka saling kasih kabar atau info lowongan di tempat lain.

Hari ini saya dapat sms dari Bunga teman saya itu, mengenai rencananya untuk mencoba mengikuti tes CPNS yang sudah mulai dibuka oleh beberapa departemen atau badan pemerintahan. Dan jujur, saya masih bimbang dengan keikutsertaan saya. Ikut tidak ya?

Sebab bimbangnya adalah sistem kerja dan lingkungan departemen atau badan pemerintahan yang kurang cocok dengan idealisme saya. Mungkin dari teman-teman banyak yang bakal bilang, “Makan tuh idealisme, dimana-mana juga semua orang kayak gitu, gak gitu loe gak hidup”. Tapi masa iya, kita mau hidup begitu terus-terusan. Tapi nilai itu masih saya pegang sampai sekarang, Tuhan itu maha adil kok, kalau memang niatnya baik, pasti Dia bakal kasih jalan.

Saya kasih tahu Bunga bahwa saya masih bimbang dengan alasan seperti diatas. Lalu dia bilang, “itu kan soal lain dong,  yang penting gajinya dan kita juga terjamin, kalau swasta kan kaya gini habis kontrak udah, mau jadi karyawan tetap susah, ya coba-coba aja dulu”. Saya setuju dengan kalimat “Ya coba-coba aja dulu” memang gak ada salahnya untuk mencoba.

Tapi saya kurang sependapat dengan pendapat teman saya itu, namun saya tidak mengatakannya, semua orang berhak kok berpendapat apa saja. Saya kira, kalau kita memang berniat bekerja dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjadi karyawan tetap tidak lah sulit. Namun, semua kan butuh proses dan tidak bisa langsung “wah”. Dan mungkin proses itu yang orang-orang malas lalui, karena tidak jarang prosesnya itu lama, sakit, pedih, atau susah. Padahal itu lah yang memberikan dan mengajarkan kita agar lebih kuat menjalani hidup.

Sebelum nulis di blog ini, saya sempat posting tweet di akun saya. “A friend said: Kerja sbg PNS lebih terjamin, what do you think tweeps?“. Salah satu teman saya ada yang mereplay “lebih terjamin mana sama yang punya usaha: udah punya asuransi jiwa, askes, reksadana ada, perhari omset jutaan, jam kerja terserah“.

Saya suka konsep pengusaha, wirausaha karena saya juga punya mimpi bisa jadi wirausahawati :p. Tapi balik lagi semua butuh proses, kesuksesan dan keberhasilan tidak bisa dihasilkan dengan hanya sekejap mata. Saya yakin omset usaha jutaan diperoleh dari kerja keras, kerja ulet, dan doa yang tak putus-putus.

Jadi mau jadi PNS, mau jadi pengusaha, itu hanyalah sebuah predikat atau atribut yang kita sandang. Yang utama adalah prosesnya, kerja keras, kerja ulet dan doa, satu lagi mental yang kuat, tidak mudah putus asa ketika kegagalan siap mampir ke dalam proses kita tersebut.

Tulisan ini bukan mau nyinyirin yang kerja sebagai PNS, kerja apapun kalau memang sungguh-sungguh pasti akan terjamin kok. PNS juga gak semuanya jelek, bahkan banyak dari teman saya yang PNS kerjanya bagus, gak magabut (makan gaji buta)🙂

Mau PNS mau pengusaha, sama saja. Terjamin kalau kita sendiri mau menjamin diri kita untuk bekerja lebih ulet, lebih keras, lebih produktif dan sungguh-sungguh. Satu lagi niatnya baik.