Tags

, , , , , , ,


Yang namanya kehilangan, walau sudah di prepare sebelumnya, tetep aja bikin sedih ya.

Hari ini, 21 Juni 2012, saya kehilangan salah satu kucing saya. Kucing kampung, yang sebenarnya saya dapet dari mahasiswa yang kos di depan rumah saya. Terdiri dari induk dan tiga ekor anak kucing perempuan.

Cantik (Induk), Rara, Tamtam, Yelo

Cantik (Induk), Rara, Tamtam, Yelo

Dari umur baru beberapa hari setelah melahirkan dan dilahirkan, induk dan tiga ekor anak kucing itu sudah saya rawat. Induknya saya kasih makan dan minum setiap hari. Induknya sendiri sangat protektif terhadap anak-anaknya, bahkan sampai sekarang pun anaknya masih di susui loh -__-

Mereka ini lucu-lucu, aktraktif dan bikin gemes. Biasanya mereka saling bercanda di dalam rumah, lari dari ruang tengah ke teras rumah. Kadang tingkahnya mereka ini lah yang bisa sedikit biikin saya ketawa ataupun tersenyum.

Sampai sekarang kalau tukang sayur datang saya selalu minta menu special buat kucing saya ini, ikan tongkol atau cue’ yang sudah di potong-potong untuk menu makan keempat kucing saya itu. Sampai-sampai tukang sayurnya juga hapal.

Cat Kiddos

Cat Kiddos

Tapi hari ini, kucing saya harus menghadap sang pencipta. Berhubung rumah saya tepat di depan jalan yang lumayan ramai oleh kendaraan bermotor, baik roda dua ataupun roda empat, plus tanjakan pula, jadi kendaraan pun lalu lalang dengan cepat. Dan kucing-kucing saya sedang senang-senangnya mengeksplor tempat-tempat baru. Lagi senang-senangnya menyebrang jalan.

Kali ini apes, Rara, anak kucing saya yang paling gemuk harus merasakan sakitnya digilas oleh roda kendaraan. Rara di tabrak motor yang melintas. Saya langsung lari ke depan rumah, langsung berjongkok melihat keadaanya. Yang buat saya sangat sedih adalah ketika saya tatap matanya. Matanya masih memancarkan kehidupan, namun ketika saya belai kepalanya sambil saya tatap matanya, sinar kehidupan itu makin lama makin menghilang dan lenyap. Gelap. *elap air mata*

Huaaaaaaaaaaaa, gak sadar saya menitikan air mata, sedih banget rasanya menyaksikan Rara yang begitu lincah terkapar lemas dan melihatnya “pergi”. Langsung seketika itu juga saya membungkus badannya dengan kain dan saya persiapkan untuk di kubur.

Tamtam (Hitam Putih) dan Rara

Tamtam (Hitam Putih) dan Rara

Sebenarnya yang menabrak Rara sendiri sempat turun dan meminta maaf. Tapi karna saya sudah terlanjur sedih dan gak tahu harus berbuat apa. Ya sudah saya hanya bilang “gak apa-apa mas”. Dan meskipun orang itu mau menguburkan jasad Rara, saya gak akan kasih. Karna saya merasa, saya yang harus melepaskannya pergi. Karna dari kecil, saya lah yang selalu berusaha merawatnya.

Sekarang hanya tinggal si induk dan dua anaknya. Cantik, Tamtam dan Yelo.

May you rest in peace ya Rara..