Tags

, , ,


Kemarin saya datang ke acara Job Fair yang diadakan Pemda suatu Kota di Jawa Barat. Bersama seorang teman, saya mencoba untuk mengadu peruntungan. Yak, kami masih menganggur. Bedanya, saya sudah beberapa kali pindah kerja, sedangkan teman saya lulus pun belum, hihihi padahal seharusnya kita seangkatan. Sorry ya Bro’. :p

Ekspektasi kita berdua adalah disana bakal banyak stand-stand dari perusahaan pengisi Job Fair, kita bakal keliling dengan santai untuk bertanya dan melihat posisi-posisi yang ditawarkan perusahaan itu. Namun kenyataannya, sungguh diluar dugaan, animo para pencari kerja ternyata sungguh sangat banyak.

Sesampainya kami di lokasi, sudah banyak ratusan orang yang berkumpul untuk mengantri masuk ke arena stand-stand yang ada di dalam gedung. Sementara, di dalam gedung sendiri, masih banyak pencari kerja yang hilir mudik di stand-stand mencari lowongan incarannya.

Mekanismenya pun terlihat tidak terlalu rapi. Registrasi tidak teratur, dimana peserta Job Fair yang datang diharuskan mengisi formulir pendaftaran, namun formulir tersebut itu harus kita fotocopy sendiri karena pihak panitia ternyata sudah kehabisan. Berbekal sok tahu, kami tanya-tanya dan akhirnya dapat fotocopy formulir tersebut dalam jumlah yang lumayan banyak, dan kami bagikan kepada peserta lain yang kebetulan melihat kami memegang formulir tersebut dan bertanya.

Untuk masuk ke dalam arena stand sendiri, kami harus mengantri lumayan lama, sekitar 1 jam kami berdiri berdesakan untuk dapat masuk menuju stand-stand di dalam. Mirip dengan antrian hendak nonton bola di GBK. Desak-desakan, panas-panasan, teriak-teriakan. Banyak diantara peserta Job Fair yang hadir membuat sedikit kericuhan karena pintu lama di buka. Teriak-teriak menghina satpam dan panitia yang bertugas, nama hewan dan kotoran manusia pun berseliweran di udara. Sementara yang lain mulai “panas”, saya dan teman malah meneriaki nama salah satu personel band favorit kami. Hehehehe.

Ketika berhasil masuk, ehmm, ternyata kondisi di dalam pun tidak jauh beda seperti diluar. Panas, desak-desakan. Stand-stand dipenuhi pencari kerja, sikut sana-sini untuk jalan dan pindah ke stand berikutnya. Dan akhirnya saya pun hanya mampu menyerahkan 3 buah amplop lamaran saya dari 7 amplop yang saya bawa. Meh. Bismillah aja.

Mungkin akan beda kondisinya kalau Job Fair dilaksanakan di JCC, Balai Kartini atau Balairung Universitas Indonesia, tempatnya lebih luas, mampu menampung orang lebih banyak, dan yang datang kemungkinan juga lebih banyak lulusan sarjananya, yang lebih tahu bagaimana harus bersikap dan bertindak. Tidak seperti Job Fair yang kemarin saya datangi bersama teman, sepertinya lebih banyak lulusan SMA/SMK dan tindakannya masih didasari oleh basic instinct manusia dikala kondisi sekitarnya mulai tidak sesuai keinginananya.

Dari pengalaman tersebut, pengalaman pertama kali saya datang ke acara Job Fair, saya punya kesimpulan. Kesimpulan saya, ternyata pengangguran di negeri ini sangat-sangat lah banyak. Jadi bersyukurlah kamu-kamu yang sekarang sedang bekerja, karena diluar sana, termasuk saya, sedang mengadu nasib untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.

Kebanyakan dari pencari kerja yang datang kemarin pun kebanyakan dari lulusan SMK/SMA, entah kenapa mereka tidak melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang universitas. Sayang sekali, karena faktanya sarjana pun sekarang susah dapat pekerjaan. Mungkin karena biaya untuk masuk universitas itu sendiri sekarang mahal, sangat mahal. Jadi buat kamu-kamu yang malas melanjutkan studi namun orang tua kalian masih mampu, coba deh mikir seribu kali. Sayang banget loh. Atau sini deh uangnya buat saya saja, buat saya modal wirausaha. Hahahaha.