Tags

, , , , , , , , ,


Directed by Gareth Huw Evans Produced by Ario Sagantoro Written byGareth Huw Evans Starring Iko Uwais, Pierre Gruno, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman, Ananda George, Eka Rahmadia, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, R Iman Aji Music by Aria Prayogi, Fajar Yuskemal Cinematography Matt Flannery Editing by Gareth Huw Evans Studio Merantau Films/XYZ Films Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

The Raid (2012)

Satu kata untuk film The Raid, Keren!

Well, untuk ukuran film action Indonesia, The Raid tergolong cukup wow, mengagetkan sejumlah orang dengan adegan kekerasan dan kesadisannya. Belum ada film Indonesia sesadis ini sebelumnya yang pernah saya tonton. Salut. Berani.

Film ini berkisah mengenai polisi khusus pimpinan Jaka (Joe Taslim) yang menggerebek markas gembong narkoba yang sudah di incar lama, Tama yang diperankan oleh Ray Sahetapi. Tindakan penggerebekan sudah beberapa dilakukan dan belum pernah berhasil.

Penyerangan diam-diam yang dilakukan awalnya berjalan cukup baik, hingga gerak-gerik mereka tercium di lantai 6. Dari sini lah aksi tembak menembak dan bacok-membacok dimulai. Mulai lah beberapa polisi menjadi korban dan tewas. Ketegangan yang di bangun di film ini cukup intens, adegan tiap adegan dibuat sesadis mungkin, sekeras mungkin dan cukup membuat saya penontonnya memalingkan wajah untuk sekedar menghindari adegan kekerasan dilakukan para pemain.

Satu dan beberapa kelemahan di film ini adalah plot ceritanya yang tidak menonjol. Tenggelam oleh adegan demi adegan laga dan koreografi silat yang ditampilkan para pemainnya. Drama antara Iko yang bertemu dengan kakaknya tidak berkembang, tidak ada emosi yang timbul di adegan ketika mereka bertemu dan berdebat. Jalan cerita film ini seakan kosong. Saya sendiri hanya menangkap bahwa drama yang ada di film ini tidak ada nyawanya. Kurang menggreget. Masih lebih bagus film Merantau.

Selain jalan ceritanya, kekurangan film ini terletak pada kekakuan para pemainnya dalam berdialog. Banyak adegan ketika penjahat ataupun sang Iko berdialog yang bisa membuat kita malah tertawa, bukan takut. Seperti adegan Mad Dog yang diperankan oleh Yayan Ruhian ketika akan melawan Jaka dengan tangan kosong. Kok malah jadi kocak? Ending dari film ini, sudah pasti penjahatnya mati dan the main penjahatnya tertangkap.

Terlepas dari itu semua, film ini mampu membuat saya berdecak kagum atas koreografi dan adegan-adegan silat yang disuguhkan. Salut dengan keberanian director asal Wales, Gareth Hew Evans yang berhasil melakukan terobosan dalam perfilman Indonesia yang selama ini hanya dipenuhi film cinta-cintaan dan horor sex.

Ehmm, dari 5 bintang, saya bisa kasih 4 bintang kurang sedikit deh untuk film ini. Dan saran saya kalau memang tidak suka film yang penuh darah dan adegan bacok-membacok jangan tonton ya film ini.😀

Selamat menonton. Semoga perfilman Indonesia semakin bagus dan bagus!