Tags

, , , ,


Hari ini, 26 Maret 2012 sekitar pukul 11.00 WIB telepon rumah kami berdering. Kebetulan yang mengangkat telepon tersebut adalah saya. Awalnya penelepon menanyakan Bapak saya, karena Bapak saya sudah meninggal, saya sedikit curiga jadi saya tanyakan dengan siapa saya berbicara. Kurang lebih seperti ini percakapannya:

S : Saya, P : Penipu, I : Ibu saya

P: Hallo, bisa bicara dengan Bapak Suwardi?

S: *Heran, karena Bapak sudah meninggal* Ini dari mana Pak? Ada yang bisa di bantu?

P: Bapaknya ada?

S: Gak ada Pak, ini dari mana ya? Ada yang bisa di bantu?

P: Ini dari BKN, Badan Kepegawaian Negara. Bapaknya pensiunan, jadi masih ada dana pensiunan yang sisa, kami mau mengembalikannya. Hubungi aja Bapak Wiritno, SH nomor telponnya 021 70338337

S: Dokumen yang dibutuhin apa aja Pak?

P: Nanti sama Pak Wiritno diberitahu, Bapak Wiritno dari Bagian Kepensiunan. Ini dengan siapa? Ibunya ada tidak?

S: Ada, ini saya sambungkan

Setelah saya sambungkan teleponnya ke Ibu saya, Ibu sempat menanyakan kantor BKN yang lokasinya dimana, lalu disebutkan di Jakarta. Tepatnya tidak dijelaskan dan di minta untuk langsung menghubungi Bapak Wiritno, SH di nomor yang disebutkan diatas.

Percakapan sampai disitu saja. Kami penasaran, maka kami pun segera telepon ke nomor yang disebutkan diatas. Saya yang menelepon ke nomor tersebut. Percakapannya sebagai berikut:

S: Hallo, siang, bisa bicara dengan Bapak Wiritno, SH?

P: Dari mana?

S: Ini tadi saya dapet telepon dari Badan kepegawaian Negara.. *dipotong oleh penipu*

P: Oh, pensiunan ya? Atas nama siapa? Dari PNS mana? Bapaknya mana?

S: Bapak Suwardi, PNS Diknas Kota Depok. Bapaknya sudah meninggal.

P: Oh, tunggu sebentar saya sambungkan dengan Pak Wiritno *nada di hold*

P: *Saya yakin ini orang yang sama* Hallo?

S: Hallo dengan Bapak Wiritno?

P: Iya, dari siapa ini?

S: Saya tadi dapat telepon dari Badan Kepegawaian Negara, katanya ada dana pensiun yang mau dikembalikan, itu maksudnya apa ya Pak?

P: Oh, ini dengan siapanya? Namanya?

S: Saya anaknya, Levina.

P: Ibunya ada?

Saya jawab ada dan saya serahkan teleponnya kepada Ibu saya, sengaja handphone saya biarkan loudspeaker agar Ibu saya mendengarkan percakapannya dan saya bisa juga mendengar percapakan Ibu saya. Disini juga saya sudah semakin curiga.

I: Hallo Pak, ini gimana maksudnya ya?

P: Ibu, kok anak ibu yang menelepon ke saya, bukan ibu sendiri saja?

Lah, saya kaget dong, emangnya kenapa kalau saya yang berbicara, nada dia berbicara seperti orang yang sedikit emosi. Lalu di jawab oleh ibu saya bahwa Ibu saya sudah tua dan tidak mengerti apa-apa. Lalu si penipu bilang akan diserahkan kepada Bapak Wiritno. Loh, berarti dua orang tadi siapa dong kalau bukan Bapak Wiritno? Kecurigaan semakin memuncak. Setelah itu telepon tersambung kembali dengan suara yang agak berisik.

I: Hallo, Pak Wiritno? Tadi saya dapat telepon dari Badan Kepegawaian Negara, ada dana pensiun bapak yang masih sisa? Kan uang pensiunannya sudah di transfer tiap bulan, ini yang mana lagi Pak?

P: Iya, ini siapa? Kok teleponnya ke saya…

Lalu sambungan telepon terputus begitu saja. Sudah jelas bahwa telepon tadi adalah percobaan penipuan yang mengincar Pensiunan Pegawai Negeri. Parahnya mereka berani mencatut nama Badan Kepegawaian Negara untuk melancarkan aksi mereka.

Bingung juga sih, kok mereka bisa tahu kalau alm. Bapak saya memang tahun ini pensiun apabila belum meninggal dunia. Apa ada kongkalingkong dengan BKN tersebut mengenai data tersebut atau mereka hanya coba-coba?

Ternyata aksi mereka ini sudah beberapa kali dilancarkan dan sudah ada media Nasional yang meliputnya. Berikut linknya : http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/18/19063555/Penipu.Incar.Pensiunan

So guys, kalau Ibu atau Ayah kalian seorang pensiunan hati-hati saja apabila menerima telepon seperti ini. Jangan langsung di percaya.