Tags

, , ,


Sebelum menyatakan opini pribadi gw mengenai topik yang akan gw tulis kali ini. Gw mau memaparkan definisinya terlebih dahulu.

Menikah

Source: duniapustaka.com

Pernikahan atau adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. (Sumber: Wikipedia Indonesia)

Sejatinya, pernikahan itu adalah pengikatan janji yang dilakukan dua orang untuk meresmikan perkawinan mereka. Secara agama, khususnya dalam agama Islam, pernikahan akan dikatakan sah apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Pihak-pihak yang melaksanakan akad nikah yaitu mempelai pria dan wanita.
  2. Adanya akad (sighat) yaitu perkataan dari pihak wali perempuan atau wakilnya (ijab) dan diterima oleh pihak laki-laki atau wakilnya (kabul).
  3. Adanya wali dari calon istri.
  4. Adanya dua orang saksi. (Wikipedia Indonesia)

Apabila salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pernikahan tidak dapat dikatakan sah secara agama. Di mata hukum, pernikahan sah apabila memenuhi hukum yang ada di negara Indonesia ini, yaitu Undang-Undang Nomor 1 pasal 2 ayat 2 tahun 1974 tentang perkawinan itu berbunyi: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Dipertegas dalam dalam undang-undang yang sama pada pasal 7 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai usia 16 tahun. Jika masih belum cukup umur, pada pasal 7 ayat 2 menjelaskan bahwa perkawinan dapat disahkan dengan meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita. (Wikipedia Indonesia)

Nah secara agama dan hukum, pernikahan sudah punya syarat tersendiri agar dikatakan sah. Yang gw mau bahas disini adalah pernikahan yang sah secara sosial. Kenapa ini jadi masalah, karena pada dasarnya sebuah pernikahan itu tidak hanya persoalan dua orang yang akan mengucapkan janji sehidup semati.

Secara sosial sebuah pernikahan itu adalah sebuah pencitraan diri dari kedua orang yang mengikat janji beserta keluarga yang terlibat di dalamnya.  Dari kacamata sosial ini, sebuah pernikahan identik dengan pesta pernikahan yang meriah dimana pengantin dan orang tua pengantin akan berdiri di sebuah singgasana untuk menerima ucapan selamat kepada mereka sepanjang hari. Ini opini pribadi gw.

Perayaan atau pesta pernikahan ini menjadi indikator sosial akan kedua belah pihak keluarga. Kenapa? Karena, semakin meriah perayaan atau pestanya, akan semakin terpandang keluarga tersebut secara sosial. Dan semakin sederhana sebuah perayaan pernikahan, akan semakin banyak suara sumbang yang akan terdengar.

Nah dari situ, menjadi sebuah ironi, ketika di mata agama dan hukum sebuah pernikahan sudah sah, namun secara sosial gagal. Gagal karena tidak dapat menyenangkan semua orang.

Hal ini terjadi di keluarga gw, dimana keluarga gw adalah sebuah keluarga besar. Terlalu besar. Dan ketika sebuah pernikahan diadakan secara sederhana, dimana tidak semua keluarga besar di undang, dari sana lah kumandang suara sumbang terdengar. Meh.

Perayaan atau pesta besar memerlukan tempat yang besar, makanan yang mencukupi, otomatis biaya pun besar. Sedangkan pada umumnya di Indonesia, khususnya di daerah-daerah, biaya pernikahan masih menjadi tanggung jawab orangtua. Kalau orangtuanya udah jadi single parent seperti nyokap gw gimenong?

Dan ironi lainnya, ketika berhasil menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan secara besar-besaran, kehidupan setelah pernikahannya dilupakan. Ternyata setelah menikah, orangtuanya berhutang sana-sini, sang pasangan pengantin masih menumpang di rumah orangtua. Miris gak sih? Gw sih iya.

Menurut gw, ini lah yang tidak perlu dilakukan dalam sebuah perayaan pernikahan. Lihat lagi tujuan menikah itu apa, dan fokus lah pada kehidupan setelah pernikahan itu sendiri. Gak mau kan setelah nikah malah banyak hutang? Hiiiii, gw sih gak mau.

Intinya, menikahlah sesuai dengan norma agama dan hukum yang ada di negara ini. Sah kah ikatan pernikahan di mata Allah SWT dan hukum di mana kita tinggal. Masalah sosial itu hanya masalah cara pandang orang lain terhadap kita dan cara kita bisa memandang balik secara bijak persoalan tersebut.

Referensi sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan