Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, Jawa Barat, memberlakukan kebijakan sehari tanpa nasi atau one day no rice setiap hari Selasa. Pemerintah mengaku kebijakan itu untuk mendukung ketahanan pangan.

Kebijakan berlaku sejak 9 Februari. Pemerintah mengeluarkan surat edaran pada semua pemilik warung makan di lingkungan perkantoran. Pemerintah meminta pemilik warung tak menyediakan menu nasi setiap Selasa. Pemerintah meminta seluruh pegawai beralih ke makanan alternatif.” Sumber: www.metronews.com

Kalian tahu apa yang gw lakukan pas baca berita di atas? Misuh-misuh sambil mikir, ini Walikota dapet inspirasi dari mana sih bisa kepikiran untuk membuat kebijakan yang nyeleneh gini?

Menurut gw, kebijakan ini belum saatnya diterapkan di Indonesia, khususnya di Kota Depok. Kemiskinan yang masih merajalela, tingkat kesejahteraan masyarakat yang tidak merata adalah salah satu masih beratnya kebijakan ini belum bisa diterapkan. Kalau pemerintah sudah bisa menjamin kesejahteraan masyarakatnya, baru lah bisa kebijakan ini diterapkan secara bertahap. Alih-alih untuk mendukung kebijakan ketahanan pangan, ini malah bikin sosok Walikota Depok kelihatan tidak intelektual.

Ngomongin intelektual, seharusnya Kota Depok bisa jadi Kota Intelektual, karena terdapat Universitas Indonesia seharusnya bisa jadi salah satu tolak ukur Kota ini. Tetapi sepertinya Pemerintah Kota Depok tidak bisa membaca peluang ini. Malah Kota Depok menjadi salah satu kota terkorup kedua versi KPK. Mirisssss

Sebagai orang asli Depok, yup, gw orang asli Depok yang dari orang tua, kakek nenek dari kedua orang tua dan buyut-buyut gw asli Depok, gw merasa malu dan marah dengan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh Pemerintahan Kota Depok termasuk Walikotanya yang berasal dari salah satu partai politik yang memang dari awal keberadaannya gw kurang suka.

Terlepas dari ketidaksukaan gw terhadap partainya si Bapak Walikota, sebenernya sosok Walikota Kota Depok ini memang agak aneh dan nyeleneh, mirip-mirip sama Menteri yang suka ngtweet itu lah, you know lah siapa, dari partai yang sama kok :p Gw pernah liat satu spanduk panjang yang di pasang di ruas jalan Margonda Depok, itu sumpah narsis banget, dimana-mana ada spanduknya si Bapak Walikota itu.

Gw sih sebagai orang Depok asli, sangat berharap Bapak Walikota narsis dan nyeleneh kita itu bisa turun tahta, biar korupsi di Kota Depok bisa berkurang dan kebijakan nyelenehnya bisa dikaji ulang.

Ada yang setuju kah sama gw? or malah gak setuju? Gw bersedia menerima komentar-komentar kok :p